Tampilkan postingan dengan label maintenance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label maintenance. Tampilkan semua postingan

6 Tips Merawat Alat Berat - Manajemen Perawatan Alat Berat

Leave a Comment
6 Tips Merawat Alat Berat - Manajemen Perawatan Alat Berat

Enam Tips Merawat Alat Berat - Alat berat yang beroperasi di tambang menghadirkan tantangan yang unik bagi operator dan kru service. Kerusakan itu mahal, diperkirakan sekitar 2% hingga 3% dari biaya penggantian aset per tahun. Tidak hanya biayanya yang tinggi, tetapi disana juga ada hari-hari kerja yang hilang.

Menetapkan program pemeliharaan alat berat yang berfokus pada biaya dan direncanakan dengan cermat berarti lebih sedikit kemungkinan unit down, lebih sedikit waktu henti, pencapaian jadwal service yang lebih baik, dan biaya yang lebih rendah.

Di bawah ini adalah enam tips untuk membuat dan mengelola program perawatan alat berat. Tips ini dapat menjadi titik awal yang baik untuk menyiapkan dan mengawasi pemeliharaan unit di lokasi tambang masing-masing.


1. MULAI SHIFT KERJA DENGAN CHECKLIST UNIT/P2H DAN KEMBANGKAN PROTOKOL END-OF-SHIFT

Merupakan ide yang baik jika kita memiliki checklist unit harian, mingguan dan bulanan yang dilakukan di setiap awal shift untuk memeriksa setiap unit dari masalah atau komponen/parts yang perlu diperbaiki. Checklist ini harus mencakup elemen kebersihan, item keselamatan, pelumasan, dan komponen pengoperasian yang diperlukan.

Pada saat akhir shift, jika memungkinkan, memarkir alat berat di area terbuka dan luas untuk menghindari elemen unit terbentur adalah sesuatu yang dapat berdampak baik . Checklist akhir shift dan jadwal cuci unit dapat mengidentifikasi detail area kecil yang mungkin perlu dikerjakan dalam waktu singkat dan cepat.


2. MEMBERIKAN PELATIHAN/REFRESH OPERATOR MELALUI PELATIHAN/TRAINING MANAJEMEN PERAWATAN ALAT BERAT DAN MENGIKUTI PELATIHAN PROSEDUR KESELAMATAN


Memastikan semua operator dan kru service terlatih dengan baik sangatlah penting. Mereka harus mengetahui dan memahami tentang kondisi unit dan menyadari apa saja yang manjadi persyaratan perawatan. Dalam skenario yang ideal, mereka akan bekerja sama dengan kru service untuk mengidentifikasi komponen penting dan segera melaporkan ke pengawas setiap bagian yang tidak berfungsi.


3. MENGOPERASIKAN PERALATAN SESUAI DENGAN BATAS KINERJA YANG AMAN UNTUK UNIT

Untuk mengurangi komponen alat berat rusak, operator harus mengamati batas kinerja yang sesuai standar untuk peralatan mereka. Selain itu, prosedur operasi yang jelas harus ditetapkan sejak awal dan operator harus dilatih untuk mengikuti praktik yang direkomendasikan.

Beban, batas torsi, kecepatan, dan lainnya harus dipantau dan dikontrol dengan cermat oleh operator. Keausan yang berlebihan, sobek, dan tekanan pada suku cadang pada saat beroperasi dapat mempersingkat umur pakai peralatan atau menyebabkan kerusakan peralatan secara tiba-tiba (dan seringkali membahayakan pengguna maupun unitnya).


4. BANGUN TIM PENANGGULANGAN CEPAT

Data dari catatan perbaikan pemeliharaan preventif dapat digunakan untuk merencanakan dan merancang upaya ini dan untuk mengidentifikasi bagian kritis tertentu. Koordinasi dengan pemasok suku cadang untuk memastikan tersedianya inventaris suku cadang penting di lokasi, membantu mengidentifikasi suku cadang kritis, dan suku cadang “hot shot” yang kehabisan stok dapat menjadi cara yang efektif untuk mendukung pemeliharaan dan pengoperasian peralatan. Dalam hal ini, perlu kordinasi efektif antara departemen maintenance dan bagian pengadaan.

Siapa pun yang akan mengelola pekerjaan pemeliharaan preventif secara efisien dan melacak inventaris suku cadang harus secara serius mempertimbangkan untuk menggunakan bantuan software khusus, karena mencoba melakukan ini secara manual akan sangat sulit dan lama.


5. MENGEMBANGKAN DAN MELAKSANAKAN PROGRAM PREVENTATIVE MAINTENANCE

Pemeliharaan reaktif (memperbaiki peralatan saat rusak) jauh lebih mahal daripada pemeliharaan yang terencana. Aturan praktis di dunia industri pertambangan adalah bahwa biaya pemeliharaan reaktif dua sampai lima kali lebih banyak daripada biaya pemeliharaan yang direncanakan.

Cara terbaik untuk mengawasi peralatan yang besar dan mahal adalah dengan mengembangkan dan memelihara program pemeliharaan preventif.

Program awal dapat didasarkan pada integrasi bagian pengadaan dan prosedur perbaikan standar untuk penjadwalan pemeliharaan preventif. Kemudian, saat catatan terkumpul dari waktu ke waktu, prosedur perawatan yang ditingkatkan dapat dimasukkan ke dalam sistem dari kegagalan suku cadang peralatan aktual dan data perbaikan. Sekali lagi, perangkat lunak manajemen pemeliharaan terkomputerisasi menyediakan dukungan sistem inti untuk memulai dan memelihara program manajemen proyek.


6. PENERAPAN ANALISIS FLUIDA DAN PEMANTAUAN BERBASIS KONDISI

Analisis fluida peralatan merupakan cara yang efektif untuk menganalisis kondisi pengoperasian alat berat. Ini dapat dilakukan sendiri atau sebagai langkah awal dalam melaksanakan program pemantauan berbasis kondisi. Analisis laboratorium terhadap cairan peralatan digunakan untuk mengetahui kondisi internal peralatan dan dapat digunakan untuk menunjukkan kapan pemeliharaan harus dilakukan.

Berbagai teknik analisis tersedia untuk cairan apa pun, termasuk oli pelumas, cairan hidraulik, transmisi, rangkaian penggerak akhir, dan cairan pendingin. Tes ini meliputi identifikasi kontaminan, viskositas, spektroskopi ultraviolet, analisis pH dan banyak lainnya. Hasil dari pengujian ini dapat mengidentifikasi prasyarat untuk kegagalan peralatan dan menandakan perlunya pemeliharaan. Pengambilan sampel dan analisis cairan dapat dimasukkan sebagai bagian dari program pemeliharaan preventif.

Investasi pada alat berat itu mahal, dan itu berguna untuk memastikan bahwa peralatan siap dan berfungsi saat dibutuhkan. Meskipun biaya peralatan langsung mudah diidentifikasi, biaya kerusakan, peralatan yang menganggur, atau kesalahan operator tersembunyi dan sulit untuk dipastikan.

Penting untuk menghitung biaya dan ROI alat berat. Praktik pengoperasian yang baik dan tim pemeliharaan yang terorganisir dengan baik yang didukung oleh sistem dapat membantu memastikan kontraktor menjalankan operasi yang menguntungkan.

Read More

MANAJEMEN PERAWATAN ALAT BERAT (REALIBILITY, MTBF, MTTR, PA dan MA)

4 comments
MANAJEMEN PERAWATAN ALAT BERAT (REALIBILITY, MTBF, MTTR, PA dan MA)
Kata “reliability” terjemahan Indonesianya adalah kehandalan, reliable berarti handal. Namun definisi formalnya dari reliability adalah : peluang sebuah komponen, sub-sistem atau sistem melakukan fungsinya dengan baik, seperti yang dipersyaratkan, dalam kurun waktu tertentu dan dalam kondisi operasi tertentu pula.

Karena mengandung komponen peluang, maka secara inheren didalamnya ada masalah statistik termasuk : 1. Uncertainty, 2. Probability, 3. Probability Distributions (Weibull, Normal, Exponensial, Log-normal, dsb).


Karena mengandung komponen “melakukan fungsi dengan baik”, maka didalamnya secara inheren pula terdapat faktor kegagalan sistem. Sebab peluang kegagalan dari sebuah mesin (misalnya) adalah kebalikan dari peluang kehandalannya seperti digambarkan dalam ekspresi matematik (cumulative damage/failure distribution function) sbb :


 Pf (t) = 1 – R(t) atau R(t) = 1 – Pf(t)


Jadi jika kehandalan sebuah mesin adalah R =90%, maka peluang kegagalan cumulativenya adalah Pf = 10%, atau sebaliknya.


Reliability mengandung komponen waktu, artinya sebuah komponen yang reliable sekarang belum tentu reliable satu tahun kemudian jika ada : 1) mekanisme kerusakan yang beroperasi (”operative damage mechanism”) dan 2) dengan laju kerusakan tertentu (misalnya laju korosi atau aus 0.01 mm/year).


Reliability mengandung faktor komponen atau sub-sistem, artinya untuk mengevaluasi sebuah sistim yang lebih besar (terdiri dari subsistem atau kompenen), maka relabilty masing-masing komponen penunjang haruslah dihitung terlebih dahulu baru kemudian dijumlahkan (atau dikalikan) sesuai dengan hubungan seri, paralel (atau keduanya) dengan mengacu pada teori penjumlahan / kombinasi peluang (De Morgan’s Rule, Bayes Theorem, dsb). Dari sini terlihat bahwa teori reliability kadang-kadang melibatkan perhitungan matematika / statistika yang rumit.


Berbicara reliability juga sama artinya dengan berbicara risk (resiko), sebab resiko didefiniskan sebagai :


Risk = Probability of Failure X Consequency of Failure


Jadi salah satu komponen resiko adalah kebalikan dari reliability (Probability of Failure), oleh sebab itu jika bicara reliability selalu dikaitkan dengan resiko.


Jika berbicara dari sisi teknik mesin, reliability dapat berarti melihat kehandalan sebuah mesin (rotating machine) melakukan fungsinya tanpa mengalami kegagalan. Dalam bahasa tekni mesin reliability biasanya dikaitkan dengan konsep maintenance seperti MTBF (mean time between failure), atau RCM (Reliability-centered Maintenance), suatu konsep maintenance yang relatif baru di Indonesia. Dengan reliability dapat ditentukan, secara statistik, remaining life dari komponen mesin sehingga dapat dijadwalkan program repair, replacement, dll.





MTBF (Mean Time Before Failures)= jarak rata-rata antara kerusakan


formula MTBF = Kurun Waktu dibagi dengan Jumlah Kerusakan yang Terjadi


MTTR = Waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk reparasi


Formula MTTR = Jumlah Waktu Reparasi dibagi dengan Jumlah Reparasi


yang diharapkan adalah meningkatnya MTBF dan menurunkan MTTR


Studi Kasus


Data historis suatu unit

a. hari ke 0 s.d hari ke 100 : up-time
b. hari ke 100 s.d hari ke 107 : down time
c. hari ke 107 s.d hari ke 197 : up-time
d. hari ke 197 s.d hari ke 200 : down-time
e. hari ke 200 s.d hari ke 290 : up-time
f. hari ke 290 s.d hari ke 291 : down-time
g. hari ke 291 s.d hari ke 390 : up-time

jumlah kejadian up-time = 4

lama total up-time = 100+90+90+99= 379 hari

MTBF = kurun waktu / jumlah kerusakan 

= 379/4 = 94.75 hari

Formula untuk menghitung Mean Time to Fail (MTTF) sama dengan MTBF. Bedanya terletak pada penggunaannya. MTBF untuk item yang bisa di-repair, sedangkan MTTF untuk item yang tidak di-repair seperti bearing dan transistor


Formula MTBF tersebut di atas hanya untuk estimasi saja. Formula tersebut hanya berlaku bila diasumsikan laju kegagalannya konstan. Bila diinginkan perhitungan yang lebih tepat dapat menggunakan grafik Weibull.


Kita lanjutkan ke perhitungan Mean Down Time (MDT) dan Mean Time to Repair (MTTR). Dari data di atas, dapat dihitung jumlah kejadian down-time adalah 3. Lama down-time total = 7 + 3 + 1 = 11 hari. MDT = (lama down-time total)/(jumlah down-time) = 11/3 = 3.67 hari.


MisKonsepsi mengenai MTBF

Pada umumnya orang mengira bahwa MTBF sama dengan usia operasional suatu produk sebelum produk tersebut mengalami kegagalan atau kerusakan. Faktanya MTBF hanya merupakan hasil angka pengolahan perhitungan statistik yang menunjukkan perkiraan berapa produk tersebut masih berfungsi atau gagal selama periode penggunaan produk. MTBF disini menunjukkan reliabilitas suatu produk bukan usia operasional suatu produk



MA (MECHANICAL AVAILABILITY)

MA adalah ketersedian Equipment / Unit pada saat Operasi, adapun beberapa factor yang dapat mempengaruhi nilai/Value MA itu sendiri adalah


1. Total Jam operasi (dalam 1 siklus operasi, Contoh: Bulan, tahun)

2. Total Down Time 

Fungsi dari perhitungan MA itu sendiri adalah untuk:


1. Mengetahui Ketersediaan operasi dalam satu siklus operasi unit terhadap down time


2. Dapat memberikan analisa secara umum mengenai Down time


3. Sebagai data pendukung untuk Equipment unit


4. Sebagai alat ukur untuk mengetahui kehandalan unit


Langkah untuk menaikan nilai MA yang di harapkan adalah dengan:


1. Menurunkan nilai MTTR (Mean Time To repaire) Sekecil Mungkin


2. Menaikan Nilai MTBF (Mean time Between Failure) sesuai standart yang telah di tentukan


3. Menunda pekerjaan trouble yang masih dalam batasan toleransi di satukan dalam satu pekerjaan Preventive Maintenance Schedule (BACKLOG)


4. Menurunkan Nilai MTTO (Mean Time To Overhaule)


5. Melakukan penjadwalan perawatan unit dengan optimal



Physical Availability (PA) dengan pengertian berapa persentase unit itu tersedia untuk digunakan tanpa terganggu oleh kerusakan atau perbaikan secara terencana (Schedule) maupun tidak terencana. Kerusakan di dalamnya juga bisa termasuk kerusakan yang non technical seperti misalnya unit rusak dikarenakan terjadinya accident ini akan mempengaruhi ketersediaan secara fisik


Mechanical Availabilty (MA). MA ini hanya akan menghitung ketersediaan unit yang di pengaruhi oleh kerusakan atau perbaikan secara technical. 


Penggunaanya tergantung dari kebutuhan , orientasi unit itu digunakan untuk produktivitas tentunya akan tetap menggunakan PA sebagai indicator-nya. Beda untuk konsumsi "bengkel" itu sendiri maka MA akan lebih sesuai digunakan sebagai indikator keberhasilan maintenance.


Baca juga:

Read More